Apakah peternak lele sengaja menunda produk masuk pasar ? Tentu saja tidak. Ia terpaksa melakukan kiat itu setelah mengalami pukulan bertubi-tubi di sektor hulu. Produk lele hidupnya sering dihargai pasar lebih rendah dan terkadang produknya tak semua terserap pasar.

Nah disitulah ia mulai mengotak-atik otak seperti memecahkan TTS atau problem catur. Lalu timbullah solusi yang masih memrlukan uji-coba. Over produksi lele-nya mulailah diolahnya menjadi abon untuk kalangan terbatas, yaitu dikonsumsi sendiri atau dibagi dengan tetangga / kerabat. Setelah lidah-lidah tak ada yang menolak, mulailah produk hilir ini diangkut ke pasar atau dititipkan di warung makan dan warung biasa.
Tantangan dan jawaban itulah intinya, seperti yang menempa bangsa Jahudi dan Jepang yang SDA-nya inferior itu.Kedua bangsa ini menjadi unggul karena secara jeli mampu mengatasi kesulitannya. Beda dengan kita yang tinggal di negeri tongkat kayu ditanam jadi tumbuhan. Minimnya tantangan membuat kita hidup berleha-leha dan tak waspada akan serangan dari luar yang akan merampok SDA kita secara kasar (hard power) disusul kemudian dengan cara halus (soft power),seperti yg kita alami sekarang ini.
Kembali ke laptop, setelah sukses menjual abon daging lele, sampah kulit menanti sentuhan tangan dan otak. Maka diolahlah kulit itu menjadi kripik lele. Jelaslah abon daging-lele lebih dulu dikenal daripada kripik kulit-lele, walaupun mungkin saja sebaliknya -- jika orag lebih dulu terpikir mengolah kulit disusul daging.
Tapi saya pribadi berpendapat bahwa karena kulit lele tak cocok dijadikan abon, maka ia disisihkan kemudian diolah jadi kripik, daripada dibuang sayang
Terlihatlah bahwa produk hulu menjadi 2 macam walau barangnya tetap satu. Sebagian lele-hidup masih dijual langsung ke pasar (1), tetapi sebagian lagi telah menjadi inout ke AI hilir (1a) untuk menghasilkan output krupuk dan abon (2) yang langsung masuk pasar. Namun produk ini masih bisa lebih dihilirkan lagi dengan mengemasnya dalam paket wisata agro, dengan membangun fasilitas relax di lokasi peternakan lele. Dan setelah para wisatawan puas bersantai, mereka akan diberi oleh-oleh untuk dibawa pulang, yaitu krupuk dan abon lele. Dengan demikian AIHi bergeser kekanan untuk memberi tempat kepada AITe di tengah. Maka produk 2a (abon dan kripik) akan menjadi input ke AIHi untuk menjadi komponen produk hilir yaitu produk wisata (layanan dan souvenir)= 3, dimana krupuk dan abon menjadi salahsatu souvenir.
Menganalogikan terciptanya krupuk kulit lele, maka bukan tidak mungkin akan lahir produk AITe ke-3 atau 2c, kalau abon = 2a dan krupuk = 2b -- misalnya dengan memberdayakan tanduk lele menjadi obat kuat. Untuk itu diperlukan penelitian sejauh mana tanduk itu mengandung unsur-unsur yang memotivasi gairah sex. Apakah ia akan menyamai ekstrak tanduk rusa ? Untuk itulah peternak lele harus menyisihkan sebagian keuntungannya untuk mendanai penelitian pemberdayaan limbah tanduk bahkan limbah tulang dan kepala lele yang tersingkir dari pengolahan krupuk dan abon lele. Tetapi kalau ternyata tanduk lele tak memiliki unsur / hormon sex, maka lebih baik ia di jadikan tepung bersama tulang lele untuk dicampurkan ke bahan-organik dalam pengomposan. Dengan mana keasaman produk kompos akan berkurang dengan datangnya unsur calsium dr tulang-tulang lele itu.
Dengan kiat itu, maka produk hulu (lel-hidup) yg masuk psr akan lbh sedikit, shg sedikit-banyak akan menaikkan harga jual, sesuai Hk Penawaran - Harga.
Selain itu, risiko susutnya produk di perjalanan akan diminimalisir.Dulu pernah seekor lele loncat dari baskom diatas bak mobil truk-terbuka ke bakul seorang penjual jamu gendong, saking banyaknya lele di satu baskom, atau ia ingin minum jamu, kalee ?Dan terakhir risiko kerugian di hulu akibat pemberian pakan juga dicegah. Pemberian pakan terus berlangsung agar terhindari kemungkinan kannibalisme.
Sementara itu, sebagian produk hulu lele-hidup dikonsumsi sendiri oleh peternak, bukan untuk digoreng santapan berbuka puasa, tetapi untuk dijadikan input (1a) ke AITe, menjadi komponen-utama produksi abon daging dan krupuk kulit
Tetapi untuk lele-sangkuriang yang diternakkan di Bogor, kayaknya menunda produk hulu masuk pasar ini tidak perlu, karena permintaan akan lele se Jabodetabek masih jauh dari terpenuhi.Kecuali kalau memang dirasa perlu untuk membuka usaha hilir produk olahan lele bukan dengan alasan seretnya pemasaran produk hulu z(lele-hidup). Bahkan lele sangkuriang justru diminati untuk olahan krupuk, karena tidak berbau seperti lele lainnya jika dijadikan krupuk. Ada juga sekarang (Okt 2010) pengusaha krupuk lele yang sekaligus memakai dagingnya, bukan hanya kulitnya seperti di Jatim itu. Caranya dengan memblender daging dengan campuran tepung dan bawang putih, seperti bahan-baku mpek2 Palembang. Lalu dijemur setelah lebih dulu diadon sempurna, lalu diiris-iris berbentuk uang logam. Mengadonnya harus padat dan merata agar jangan retak ketika dijemur, yg menghalangi pengembangan ketika digoreng