(Minggu 170313 di Jakarta)
KLB ke-3 PSSI telah berakhir dalam sehari doang, tanpa kericuhan yang berarti. Hanya ada yang merasa dirinya berhak ikut KLB itu mencoba memaksakan-diri masuk ruang kongres, namun berhasil dicegah.
Sisanya adalah 6 anggota exco yang pemegang hak-suara, walk-out sebagai protes atas belum direhabilitirnya mereka oleh PSSI. Bahkan mereka terancam akan dipecat, karena dianggap sebagai biang kericuhan PSSI dan Liga Ina.
Berikut hasil KLB yang berlangsung di Hotel Borobudur itu :
1. Ketua KPSI La Nyalla Mattalitti diangkat menjadi Waketum PSSI, sebagai imbalan dari pembubaran Komite Penyelamatan SB Ina itu secara resmi
2.ISL (pro PSSI/Johar Arifin) resmi menjadi kompetisi tertinggi di Indonesia,
3.Unifikasi Liga bakal dimulai 2014, namun masih bersifat transisi sebelum 2015. 1]
4. Kongres tahunan PSSI belum ditentukan waktunya.
5. Statuta FIFA resmi disetujui / diakui oleh 2 kubu yang bertikai.
Care-taker Menpora memuji diri sendiri dengan keberhasilan ini. Tadinya banyak yang meragukan kemampuan saya, karena bidang saya hanyalah Teknologi Informatika.
Boleh juga ini keberhasilan menteri dari PD itu, tetapi boleh juga tidak, karena memang tak ada pilihan bagi kedua kubu kalau masih membandel tidak mau rujuk. Soalnya akan banyak periuk nasi kelak tidak berisi, setalah PSSI dibekukan.
Yang perlu kita puji justru bukan dalam ‘keberhasilan’ Roy Suryo memadukan-ulang para ‘pebisnis’ SB Ina, tetapi adalah perhatiannya kepada seorang legenda SB ina, yi almarhum Ramang. 2] 3]
Begitu diangkat menjabat Menpora, Roy Suryo langsung menyempatkan diri mengunjungi keluarga alm Ramang di Makasar dan setelah berziarah ke makam pesepakbola tahun 1950-an itu, Roy juga memberikan sekedar sumbangan buat ibunda Ramang.
Mungkin baru RS-lah Menpora yang mengunjungi makam/keluarga seorang olahragawan, sejak berdirinya RI.
Namun sebaliknya perlu juga RS dicurigai, kenapa hanya makam seorang mantan pesepakbola yang diziarahi ? Kenapa bukan makam seorang atlit lari misalnya ?
Jangan-jangan RS ‘minta petunjuk’ di makam Ramang untuk penyelesaian kemelut atau tawuran di tubuh PSSI, he-he…
Catatan
1] Tahapan menuju Liga Ina yang profesional di tahun 2015 itu adalah sbb
a. Tahun 2013 masih tetap ada 2 kompetisi (ISL + IPL), namun sudah dibawah atap yang sama, yi PSSI. Ini adalah konsekwensi logis dari pembubaran KPSI yang menaungi IPL.
b.Musim depan hanya ada ISL, namun dengan peserta 22 tim (18 tim dari ISL 2013 dan 4 tim dari IPL)
c. Dari 22 tim nanti ada 4 tim yang akan terdegradasi dan untuk genapkan jadi 20 tim di kompetisi 2015 maka akan ada 2 tim promosi
dari Divisi Satu
2] Pebisnis tidak selalu mampu membangun industri, karena dengan modal 1 unit telepon dan 1 komputer, 1 set kursi tamu, 2 set meja tulis, seseorang sudah bisa menjalankan bisnis, misalnya percaloan atau perantara.
Sepakbola kita memerlukan sentuhan industri dari para industriawan yang handal, agar tak lagi membebani rakyat lewat penggunaan APBD yang seharusnya digunakan untukmembangun jembatan putus.
Iklan Dick Doang bersama Del Piero tahun 1992 (Piala Dunia Korea-Jepang) : Kapan ya Ina jadi juara dunia SB ?
Sekarang ini lebih penting bertanya, kapan ya SB Ina bisa hidup dari penjualan tiket, penjualan hak siar TV, penjualan asesoris, dsb ?
3] Ramang adalah pesepakbola legendaris yang dulu tergabung dalam PSM Makasar. Ikut ke Olympiade 1956 di Melbourne, dimana timnas PSSI berhasil menahan timnas Uni Sovyet 0-0
Sayang, karena peraturan pertandingan harus diulang, maka esoknya Ramang cs digunduli 0-5. Andai seperti peraturan sekarang, dilanjutkan dengan 2 x 15 menit disusul dengan adu penalty, mungkin timnas PSSI akan mampu mengalahkan tim beruang merah itu. Soalnya mental para ‘vladimir’ lagi down (tak mampu membobol gawang tim anak-bawang), sehingga bisa berakhir pada kekalahan jika dalam 2 x 15 menit masih draw. Adu penalty bisa menguntungkan tim yang tak punya beban mental atau tim yang tidak dibebani target oleh PSSI-nya, Tendangan penalty lawan bisa melenceng atau berhasil diblok oleh kiper timnas Ina, karena penendangnya sudah down-mental, demikian teorinya.
KLB ke-3 PSSI telah berakhir dalam sehari doang, tanpa kericuhan yang berarti. Hanya ada yang merasa dirinya berhak ikut KLB itu mencoba memaksakan-diri masuk ruang kongres, namun berhasil dicegah.
Sisanya adalah 6 anggota exco yang pemegang hak-suara, walk-out sebagai protes atas belum direhabilitirnya mereka oleh PSSI. Bahkan mereka terancam akan dipecat, karena dianggap sebagai biang kericuhan PSSI dan Liga Ina.
Berikut hasil KLB yang berlangsung di Hotel Borobudur itu :
1. Ketua KPSI La Nyalla Mattalitti diangkat menjadi Waketum PSSI, sebagai imbalan dari pembubaran Komite Penyelamatan SB Ina itu secara resmi
2.ISL (pro PSSI/Johar Arifin) resmi menjadi kompetisi tertinggi di Indonesia,
3.Unifikasi Liga bakal dimulai 2014, namun masih bersifat transisi sebelum 2015. 1]
4. Kongres tahunan PSSI belum ditentukan waktunya.
5. Statuta FIFA resmi disetujui / diakui oleh 2 kubu yang bertikai.
Care-taker Menpora memuji diri sendiri dengan keberhasilan ini. Tadinya banyak yang meragukan kemampuan saya, karena bidang saya hanyalah Teknologi Informatika.
Boleh juga ini keberhasilan menteri dari PD itu, tetapi boleh juga tidak, karena memang tak ada pilihan bagi kedua kubu kalau masih membandel tidak mau rujuk. Soalnya akan banyak periuk nasi kelak tidak berisi, setalah PSSI dibekukan.
Yang perlu kita puji justru bukan dalam ‘keberhasilan’ Roy Suryo memadukan-ulang para ‘pebisnis’ SB Ina, tetapi adalah perhatiannya kepada seorang legenda SB ina, yi almarhum Ramang. 2] 3]
Begitu diangkat menjabat Menpora, Roy Suryo langsung menyempatkan diri mengunjungi keluarga alm Ramang di Makasar dan setelah berziarah ke makam pesepakbola tahun 1950-an itu, Roy juga memberikan sekedar sumbangan buat ibunda Ramang.
Mungkin baru RS-lah Menpora yang mengunjungi makam/keluarga seorang olahragawan, sejak berdirinya RI.
Namun sebaliknya perlu juga RS dicurigai, kenapa hanya makam seorang mantan pesepakbola yang diziarahi ? Kenapa bukan makam seorang atlit lari misalnya ?
Jangan-jangan RS ‘minta petunjuk’ di makam Ramang untuk penyelesaian kemelut atau tawuran di tubuh PSSI, he-he…
Catatan
1] Tahapan menuju Liga Ina yang profesional di tahun 2015 itu adalah sbb
a. Tahun 2013 masih tetap ada 2 kompetisi (ISL + IPL), namun sudah dibawah atap yang sama, yi PSSI. Ini adalah konsekwensi logis dari pembubaran KPSI yang menaungi IPL.
b.Musim depan hanya ada ISL, namun dengan peserta 22 tim (18 tim dari ISL 2013 dan 4 tim dari IPL)
c. Dari 22 tim nanti ada 4 tim yang akan terdegradasi dan untuk genapkan jadi 20 tim di kompetisi 2015 maka akan ada 2 tim promosi
dari Divisi Satu
2] Pebisnis tidak selalu mampu membangun industri, karena dengan modal 1 unit telepon dan 1 komputer, 1 set kursi tamu, 2 set meja tulis, seseorang sudah bisa menjalankan bisnis, misalnya percaloan atau perantara.
Sepakbola kita memerlukan sentuhan industri dari para industriawan yang handal, agar tak lagi membebani rakyat lewat penggunaan APBD yang seharusnya digunakan untukmembangun jembatan putus.
Iklan Dick Doang bersama Del Piero tahun 1992 (Piala Dunia Korea-Jepang) : Kapan ya Ina jadi juara dunia SB ?
Sekarang ini lebih penting bertanya, kapan ya SB Ina bisa hidup dari penjualan tiket, penjualan hak siar TV, penjualan asesoris, dsb ?
3] Ramang adalah pesepakbola legendaris yang dulu tergabung dalam PSM Makasar. Ikut ke Olympiade 1956 di Melbourne, dimana timnas PSSI berhasil menahan timnas Uni Sovyet 0-0
Sayang, karena peraturan pertandingan harus diulang, maka esoknya Ramang cs digunduli 0-5. Andai seperti peraturan sekarang, dilanjutkan dengan 2 x 15 menit disusul dengan adu penalty, mungkin timnas PSSI akan mampu mengalahkan tim beruang merah itu. Soalnya mental para ‘vladimir’ lagi down (tak mampu membobol gawang tim anak-bawang), sehingga bisa berakhir pada kekalahan jika dalam 2 x 15 menit masih draw. Adu penalty bisa menguntungkan tim yang tak punya beban mental atau tim yang tidak dibebani target oleh PSSI-nya, Tendangan penalty lawan bisa melenceng atau berhasil diblok oleh kiper timnas Ina, karena penendangnya sudah down-mental, demikian teorinya.