Kamis, 31 Juli 2014

BUTET





Lagu Butet diciptakan dimasa perjuangan kemerdekkaan RI di Tapanuli, persisnya di kab Tapteng, kec Sitahuis.

Lagu ini berstatus anonim atau tak jelas pencipta, namun diyakini pertama sekali sinyanyikan oleh seorang ibu pengungsi bermarga Tobing. 1]

Lagu sendu bertempo pelan itu pertama-kali berkumandang di sebuah gua pengungsian, dekat desa Naga Timbul, berjarak sekitar 4 km dari Sitahuis.  Lagu itu dinyanyika ibu Boru Tobing untuk menina-bobokkan bayi-perempuannya. 2]

Lirik asli lagu itu adalah sbb :
Butet di Sitahuis do apangmu aleee Butet….
(Da mancetak hepeng OERI alee Butet..…) 2 x
Sementara lagu Butet yang sekarang dimulai dengan

Butet, di pangungsian di amangmu aleee Butet…
(Da margurilla da mardarurat aleee Butet… ) 2x

Dari lirik asli lagu Butet bisa disimpulkan bahwa suami si Ibu boru Tobing adalah bekerja di percetakan uang republik.

Namun demikian, perubahan lirik lagu Butet tidak mengganggu atau mengurangi jasanya merekam perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan RI.
Hanya lokasi pengungsian dan Sitahuislah yang terbuka untuk diperdebatkan. Pada lagu aslinya, ayah si Butet diceritakan sedang di garis depan, bekerja di percetakan ORITA (Oeang Repoeblik Indonesia TAvanoeli). Sementara pada lirik yang sekarang, ayah si Butet diceritakan sedang di pengungsian, berarti di gua Naga Timbul. Nah, perbedaan inilah yang perlu diluruskan. Apakah Sitahuis yang berjarak 4 km dari desa Nagatimbul itu termasuk kedalam kawasan pengungsian, atau justru sebuah front pertempuran ?3]

Sementara keadaan darurat pada tahun 1947 – 1949 itu digambarkan oleh kedua lirik awal lagu Butet ( baik yang asli maupun yang modifikasi / penyempurnaan).

Lirik asli Butet bercerita tentang kegiatan pencetakan ORITA :

Butet, di Sitahuis do apangmu aleee..Butet
(Da mancetak hepeng ORITA aleee Butet..…) 2 x

Terjemahan :
Butet, ayahmu kini di Sitahuis
Mencetak ORITA

Sementara lagu Butet yang sekarang dimulai dengan

Butet, di pangungsian di amangmu aleee Butet…
(Da margurilla da mardarurat aleee Butet… ) 2x
Butet, ayahmu di pengungsian
Sedang bergerilya dan ‘berdarurat’ 

Istilah berdarurat terkesan unik, namun menunjuk kepada situasi darurat (tak menentu), dimana alat tukar juga bersifat transisi yi ORITA.

Yang jelas Sitahuis menjadi lokasi percetakan uang-darurat bernama ORITA (Oeang Republik Ina Tapanuli) itu.4]


BUTET

1. Butet,…
Di pangungsian do apangmu ale, Butet
Da margurilla da mardarurat ale Butet  (2x)

Reff:  Idoge, doge, doge,…  idogei… doge,… doge (2x)

2. Butet,…
Sotung ngolngolan rohamuna ale Butet
Paima tona manang surat ale Butet (2x)

Reff:  Idoge, doge, doge,…  idogei… doge,… doge (2x)

3. Butet,…
Tibu do mulak au Amangmu ale Butet
Musunta i ingkon saut do talu, ale Butet  (2X)


Reff:  Idoge, doge, doge,…  idogei… doge,… doge (2x)


4. Butet, haru patibuma magodang ale Butet
Asa adong da Palang Mera  ale Butet
Da Palang Mera ni Negara ale Butet

Reff:  Idoge, doge, doge,…  idogei… doge,… doge (2x)


BUTET (terjemahan bebas)

1. Butet,
Di pengungsian engkau lahir, wahai Butet
Di masa Agresi Kedua, wahai Butet
Didalam keadaan darurat wahaaai Butet

Reff: Aduhai, duhai, duhai, aaduhai, duhai, duhaaai...2x

2. Butet,
Tak usah risau menantiku, wahaaai Butet
Menunggu pesan atau surat, wahai Butet 2X

Reff:  Aduhai, duhai, duhai, aaduhai, duhai, duhaaai...2x

3. Butet,

Kuusahakan cepat pulang, wahaaai Butet
Musuh kita pasti kan takluk wahaaai Butet 2x

Reff:  Aduhai, duhai, duhai, aaduhai, duhai, duhaaai...2x

4. Butet,
Segralah  tumbuh dan dewasa engkau Butet
Jadi anggota Palang Merah, wahaaai Butet
Palang Merah Negara kita, wahaaai Butet

Reff:  Aduhai, duhai, duhai, aaduhai, duhai, duhaaai...2x

Lagu Butet yang sekarang sepertinya jenis bersahut-sahutan, dimana bait pertama dinyanyikan oleh ibu si bayi, sementara bait selanjutnya (2 dan 3) dinyanyikan oleh ayah si Butet. Kemudian bait ke-4 kembali dinyanyikan oleh si Ibu.

Tetapi boleh saja lagu itu hanya disenandungkan Ibunya seorang, walau beberapa bagian seolah-olah berasal dari ayahnya Butet. Atau boleh saja pesan si ayah itu hanya harapan si Ibu belaka.

Ibunya Butet berharap menerima pesan atau surat dari suaminya namun tak kunjung datang. Maka si ibu sendiri yang menenangkan hati sendiri dengan lirik lagu bait kedua dan ketiga. 

Menghibur putrinya (Butet) dan diri sendiri agar bersabar dalam menantikan pesan atau surat dan juga bersabar menantikan kepulangan suaminya dari garis depan. 

Sementara bait ke-4 adalah harapan Sang Ibu, agar Butet kelak setelah dewasa akan turut berjuang dengan menjadi Anggota Palang Merah untuk menolong dan merawat para pejuang yang terluka di pertempuran.

Bagian terakhir ini sebenarnya kurang logis, kecuali perang kemerdekaan RI berkepanjangan seperti perang Israel Palestina. Buktinya, tahun 1949 perang melawan Belanda berakhir sudah dan tak dibutuhkan lagi tenaga Palang Merah Wanita.

Namun begitulah yang namanya lagu, sama dengan puisi – tak harus selalu logis atau realistis.

Catatan :
1] Lagu Butet merupakan salah satu Lagu Wajib Nasional, yang masuk dalam Kategori Lagu Perjuangan.

2] Butet adalah  panggilan  kepada  bayi perempuan yang belum diberi nama secara "resmi", sedangkan Ucok adalah panggilan kepada bayi lelaki. 

3] Di masa Agresi Belanda 1947-9, dusun Sitahuis dan sekitarnya menjadi basisnya Maraden Panggabean yang dimasa Orba Suharto sempat menjabat Panglima ABRI dan Menko Polkam.
4] ORITA digunakan oleh para pejuang dan menyatakan bahwa uang gulden Belanda tidak berlaku lagi.  Tak jelas apakah seseorang yang memiliki gulden boleh menukarkannya kepada para pejuang yang mencetak uang sendiri, atau tidak. Yang jelas pencetakan uang itu diperintahkan oleh Residen Tavanoeli, Ferdinand L.Tobing atas persetujuan pemerintah Pusat di Jawa atau di Bukit Tinggi (ibukota RI darurat).


Foto profil Sanggam Tobing
Tambahkan komentar...