Sabtu, 31 Desember 2011

KTPE




KTP Electronik akan menggantikan KTP konvensional, agar kita kelihatan moderen tak ketingalan zaman. Proyek KTPE bernilai trilyunan ini memang punya kelemahan menurut seorang pakar dari ITB. Masih bisa dipalsukan, demikian pakar tsb.
Namun karena berupa proyek, harus jalan terus – karena akan ada yang kebagian dari proyek itu, biasanya 30 % dari nilai proyek.  Kebocoran 30 % itulah yang membuat kita miskin terus entah sampai kapan. 1)
Andai dana mark up itu dibangunkan jalan-darat  di Papua, tak perlu lagi jiwa melayang karena pesawat  jatuh melulu di provinsi yang tanpa jalan-darat penghubung itu.2)
Proyek KTPE bernilai trilyunan rupiah terkesan dipaksakan demi mark up yang sulit dibuktikan, tetapi aromanya menusuk hidung seperti aroma kentut. Sementara sarana perhubungan tak kunjung beres di negeri yang sudah 66 tahun usianya ini, yang ibarat orang sudah kakek / nenek.

KTPEa
Sementara itu KTPE yang satunya tak pernah dipaksakan, karena tak memberi peluang korupsi – walau tetap saja bisa direkayasa, KTP yang manakah itu ?

Tidak lain dari KTP Earth atau KTP bumi, sebuah benda yang menjadi barang bukti bagi pemiliknya – yang akan membuktikan bahwa pemegangnya adalah penduduk bumi, bukan penduduk planit Mars atau pendatang haram dari Pluto.

KTPE yang satu ini memang tidak praktis dan cukup merepotkan bagi pemiliknya. Untung saja KTPE ini tak perlu dibawa-bawa, tetapi cukup diletakkan di sebuah tempat di muka bumi habitat kita yang unik ini. Bahkan boleh saja ia ditempatkan di ruangan sebagai indoor-plant sebelum akhirnya ditanam di alam bebas agar tumbuh bebas dan lepas menjadi dewasa untuk kemudian mati sesuai kodratnya.

KTP Earth memang adalah pohon atau bibit pohon, yang harus dimiliki oleh setiap warga bumi dewasa, bahkan yang baru berusia 7 tahun. Seorang warga-bumi yang memiliki KTPEa (bukan KTPEl) adalah seorang warga yang bertanggung-jawab, yang ikut mencegah kepunahan kehidupan dan mencegah degradasi kwalitas bumi habitatnya – karena dengan memiliki bibit pohon itu, ybs telah ikut membendung laju pemanasan-global sekaligus memulihkan tingkat keragaman hayati, atau setidaknya mencegah kemerosotan ragam biota di planit yang kita diami ini.

Tidak memiliki KTPEa berarti pendatang haram dari planit lain dan akan dipersulit memperoleh fasilitas yang disediakan pemerintah yang cerdas. Sebaliknya yang memiliki KTPEa akan dipermudah dalam pelayanan kesehatan, pendidikan dls – karena jasanya ikut menyelamatkan bumi itu.

Kalau menggandakan KTP konvensional dianggap melanggar hukum, maka memiliki KTPEa ganda justru dianjurkan, kalau perlu seorang warga bumi memiliki seribu KTPEa.
Maka milikilah KTPEa sebanyak mungkin, atau setidaknya 1 set agar Anda terhindar dari razia yang dilakukan oleh polisi bumi yang bersifat maya atau tak berwujud itu. Razia itu hanya dilakukan kepada kesadaran Anda dan mungkin juga di alam bawah-sadar Anda, misalnya Anda bermimpi menanam pohon di lahan kritis atau bemimpi diborgol polisi bumi, karena tak memiliki KTPEa, he-he…

KTPEa ini tidak dicetak secara massal seperti KTP lama, tetapi haruslah dibikin sendiri – misalnya dengan memungut sebuah bibit pohon yang tumbuh liar di pekarangan rumah, ditepi jalan atau diatap bangunan yang terbengkalai.
Kenapa harus dipindah dari sana ? Tidak lain agar kepastian hidupnya lebih terjamin. Pohon yang tumbuh liar jarang sekali menjadi dewasa, karena sering disingkirkan (dianggap mengganggu keindahan/ketertiban), digunduli kambing atau ditabrak kenderaan.

Maka pindahkanlah ia dengan lembut, dengan cara menggali lebih dulu sekelilingnya dengan radius 30 cm, seperti menggali parit pertahanan kerajaan Romawi kuno untuk mempersulit musuh yang akan menyerang kota/istana.

Tetapi parit yang ini adalah mempermudah, walau melakukannya sangat sulit. Peralatan yang cocok untuk menggali parit sedalam 10 cm atau lebih ini adalah linggis, pahat-besi atau parang runcing. Tujuannya adalah agar akar tanaman tidak rusak ketika ia diciduk atau diculik.

Memang tidak mungkin menculik bibit pohon tanpa kerusakan akar, namun usahakanlah meminimalkan kerusakan itu. Cukuplah ujung akar yang rusak, baik ujung vertikal maupun yang horizontal, sehingga peluang hidupnya lebih tinggi.

Untuk memudahkan, gunakanlah bantuan air – yang disiramkan secukupnya kesekeliling tanaman untuk memperlembut tanah yang akan dikorek. 3)

Setelah menggali cukup dalam, potonglah bagian bawah akar itu dengan pisau yang tajam, untuk mengurangi penderitaannya. Memang akan tertinggal sedikit ujung akar bawah,bahkan ujung akar samping, tetapi hal itu tidak akan menimbulkan masalah besar, karena kemampuan tanaman beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Hanya saja kurangilah penderitaannya dan percepatlah pemulihannya dengan cara menyeimbangkan bagian atas pohon dengan bagian bawahnya. Kurangilah bagian atas agar seimbang dengan bagian bawah, sehingga menjadi efisien dalam tahap pemulihan itu bahkan dalam tahap selanjutnya.

Potonglah pucuk daun secukupnya, kalau perlu memotong 1-2 ranting, sehingga penguapan airnya lebih minim, sehingga sesuai dengan daya-serap air akar yang telah berkurang jumlahnya itu.

Untuk lebih menjamin peluang hidupnya, lumpurilah media-tumbuhnya yang baru atau media sementaranya jika Anda memungut bibit pohon itu di tempat yang jauh, agar kestabilan kedudukan akar dan kelembabamannya lebih tinggi, sehingga tunas baru akar tumbuh lebih segera.

Tentu saja tanahnya yang sudah melumpur itu dipadatkan sehingga mirip adonan kue donat, he-he.
Tempatkanlah bibit transmigran itu ditempat teduh, kalau perlu dikamar Anda, lalu setelah 2-3 hari mulai ditempatkan di lokasi yang disinari matahari pagi atau s.m. sore agar proses adaptasinya berjalan mulus.

Kalau Anda kurang berhasil meminimalkan akar putus sewaktu ‘mengeksekusi’ tanaman itu, maka gundulilah tanaman itu sampai plontos, karena tokh ia akan gundul juga setelah semua daunnya melayu karena kekurangan akar. Anda jangan bimbang dan jangan ragu untuk melakukan penggundulan daun untuk mengurangi penguapan air itu, karena nanti juga tanaman akan pulih bahkan tunas barunya akan lebih segar dibandingkan dengan tunas baru tanaman transmigran yang tidak dibotaki.

Jangan lupa juga untuk membuang sebagian rantingnya untuk lebih menyeimbangkan bagian atas dengan bagian bawah tanaman itu, sehingga efisensi tetap terjaga.4)
Setelah 1-2 bulan, Anda benar-benar telah memiliki KTPEa dan tak perlu takut lagi kena razzia. Dan kalau Anda dipersulit ketika berobat di Puskesmas atau di RSU pemerintah, informasikanlah bahwa Anda berhak menerima pelayanan ekstra,karena telah ikut melestarikan bumi dimana si perawat atau si dokter hidup.

Kalau petugas kesehatan kurang percaya, bawalah KTPEa Anda dari rumah dan perlihatkan kepada perawat atau dokternya. Nih, saya sudah berbuat – saya adalah warga-utama planit bumi, maka tolong dilayani semestinya, he-he..
Setelah KTPEa Anda cukup dewasa dan siap dilepaskan di alam bebas, maka ajaklah teman-temanmu sesame pemilik KTPEa untuk bergabung dan susunlah acara berdarmawisata keluar-kota sambil menanam pohon.

Ekowisata
Terutama untuk siswa,acara ini bisa dilakukan ketika masa liburan atau perpisahan dengan kelas 6, 9 dan 12. Carterlah sebuah truk, tapi pastikanlah remnya tidak bermasalah, karena di negeri kita yang sembrono ini seringkali kecelakaan berujung maut terjadi karena rem kenderaan yang ditumpangi blong. Sesuaikanlah ukuran truk dengan jumlah rombongan Anda dan pilihlah Colt Diesel jika jumlah rombongan tak begitu banyak dan jika jumlah rombongan agak banyak, carterlah sebuah truk Fuso yang diperlukan terutama memuat barang-barang bawaan, yaitu bibit-pohon, kompos dll
 Pilihlah tujuan wisata yang jaraknya tak begitu jauh dari kota Anda, agar kelak ‘reuni’ mudah dilakukan, yaitu bertemu sesama siswa dari sekolah tertentu sekali setahun ditempat yang sama, dimana pohon sudah ditanam.

Pilihlah lahan yang agak kritis, namun tak begitu jauh dari sebuah desa. Ajaklah penduduk desa bekerjasama untuk kegiatan yang mulia itu, karena bibit pohon itu memang masih memerlukan perawatan terutama dimasa adaptasinya 1 – 3 bulan.

Perawatan / pemeliharaan
Serahkanlah perawatan tanaman muda itu kepada penduduk desa, terutama kepada remaja gaul yang mau meng-gagas-ulang (gaul) perilakunya selama ini, menjadi lebih RL (ramah lingkungan). Namun salah seorang atau 2 orang dari kelompokmu harus meninjau perkembangan tanaman muda itu secara rutin, dimulai dari sekali seminggu, kemudian sekali 2 minggu, dst. Hal itu untuk memastikan apakah penduduk desa terdekat melaksanakan tugasnya ikut merawat bumi itu.

Mereka tak perlu diberi imbalan, karena kegiatan itu adalah untuk semua orang, namun untuk lebih menggairahkan mereka, janjikanlah bahwa kegiatan kalian itu akan masuk TV. Tentu saja mereka jadi senang, siapa sih yang tak ingin masuk TV ? Nah dengan dijanjikan akan dimasukkan liputan  TV itu, maka remaja-gaul setempat juga akan lebih semangat bahkan ikut meniru kegiatan gaul Anda.

Setiap Anda atau utusan kelompok Anda mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan / perawatan bibit pohon KTPEa itu, janganlah lupa bawa bibit pohon baru sebanyak 1 atau 2 unit, untuk melakukan penyisipan jika ada tanaman yang mati atau terlalu merana. Dan juga jangan lupa bawa oleh-oleh untuk teman-teman remaja di desa – tidak saja oleh-oleh berupa makanan dan minuman untuk mempertebal rasa kekeluargaan,tetapi juga oleh-oleh berupa buku, majalah, dsb yang memfokuskan diri kepada LH (lingkungan-hidup) atau tanam-menanam, untuk diserahkan kepada remaja-remaja di desa itu. 5)

Setelah 3-4 tahun, pohon yang Anda tanampun sudah cukup dewasa. Maka saatnya untuk mengukir nama-nama kelompokmu dibatang pohon itu sebagai pertanda kepemilikanmu dan ketika kelompokmu melakukan hal itu dalam sebuah reuni, tak lupa juga membawa bibit baru yang akan ditanam dimana saja masih memungkinkan disekitar lokasi itu.6)
Jarak antara pohon tak perlu ditentukan, semakin rapat pepohonan semakin baiklah dampaknya, namun mulailah dengan jarak 50 meter antar 2 pohon berdekatan.
Nah sekarang Anda boleh lega, telah berbuat untuk Ibu Pertiwi dengan nyata, tidak bohong-bohongan seperti aparat pemerintahmu, yang menanam pohon tapi tak pernah dirawat. 7)
Dan selanjutnya Anda akan mendatangi lokasi penanaman pohonmu secara rutin bahkan kalau memungkin seumur-hidup, selama hayat masih dikandung raga.

Penutup
Suatu saat kelak kepemilikan KTPEa, akan dijadikan syarat untuk menikah. Kalau di Jepang sebelum calon pasutri menikah ditanya dulu apakah sudah memiliki polish asuransi, maka di negara yang cerdas, mereka akan ditanya dulu apakah sudah memiliki KTPEa, dan kalau belum pernikahannya akan ditunda dulu sampai keduanya memiliki setidaknya 2 bibit pohon pertanda calon pasutri itu adalah warga sah planit bumi dan bukan ‘pendatang-haram’ dari luar galaxy Bima Sakti.

 Catatan
1) Selain homo-ecomicus dan homo-politicus, manusia juga adalah homo-projecticus – setidaknya manusia Ina. Homo projecticus ini perilakunya seperti tikus, selalu ingin menggerogoti
2)Kemaren seorang copilot tewas, ketika sebuah pesawat cargo Susy Air menabrak gunung dan esok lusa akan terjadi lagi kecelakaan serupa, karena pesawat yang dioperasikan di negeri ini adalah pesawat tua rongsokan yang dibeli dari negara-negara yang cerdas, yaitu negara yang membatasi operasi pesawat terbangnya demi keamanan penumpang dan operato. Sebelumnya, segala jenis pesawat milik berbagai maskapai penerbangan telah berontokan di sembarang tempat dari Sabang sampai Merauke.
3) Disinilah kesabaran dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Maka kegiatan memindahkan bibit tanaman ini perlu juga ditekuni oleh pesepakbola kita, agar diterapkan ketika berlaga di lapangan hijau. Dengan latihan memindahkan bibit pohon yang tumbuh liar, maka Okto Maniani cs akan lebih sabar dalam membangun serangan – lebih sistematis dan bertahap, tidak nafsu besar tenaga kurang, misalnya pemain belakang langsung mengumpan jauh kedepan dengan resiko tinggi kehilangan bola. Sementara itu Okto cs telah ikut melestarikan bumi dengan menjalani latihan rutin memindah pohon kecil itu, sambil menyelam menangkap ikan, he-he
4)Perlakuan menyeimbangkan bagian atas dengan bagian bawah tanaman ini merupakan prinsip dasar dalam membonsai tanaman hias.
5) Kalau perlu bukalah perpustakaan desa disana dengan bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti yang dilakukan oleh Sdri Mukhtamar Sekar Cendana di Kediri Jateng.
6) Gerakan menanam-pohon bukanlah kegiatan yang bersifat ‘angin-anginan’ tetapi adalah kegiatan terus-menerus yang seharusnya cukup dilakukan oleh Dinas Kehutanan.
7) Akhirnya seribu pohon ditanam, hanya seratus yang tumbuh menjadi dewasa, bahkan bisa saja semua pohon yang ditanam tak sebatangpun yang tersisa. Ada yang mati kekeringan, diserang hama, dilalap kambing atau ulat, busuk akar kebanyakan hujan, dst.


Minggu, 04 Desember 2011

ELANG TUNGGAL




Sewaktu kecil anak-ayam di desaku sering dimangsa seekor elang yang selalu bertengger di sebuah pohon mati didekat sawah dekat saluran pengairan. Waktu itu saya tak terpikir atau bertanya dalam hati, kenapa pohon kering yangtelah meranggas itu tidak dijadikan kayu api saja, untuk menghilangkan tempat bertengger si burung elang ‘pemangsa jahat’ anak ayam itu ?

 Sekarang baru kumengerti kebijakan naluriah orang-orangtua, yang membiarkan anak ayamnya dimangsa si burung elang berwarna coklat itu. Rupanya burung predator lambang negara RI itu juga berguna bagi keseimbangan LH. Saya mencoba mengingat-ingat dan benarlah, petani didesaku tak pernah gagal panen karena serangan hama tikus. Rupanya makanan pokok burung-elang yang selalu bertengger di pohon meranggas dekat swah itu adalah tikus-tikus sawah.
Rupanya  para petani padi didesaku telah berhitung secara naluriah. Lebih baik mengorbankan anak-ayam daripada gagal panen karena serangan hama tikus. Dengan keberadaan elang-tunggal itu maka populasi tikus di sawah tetap terkendali, karena hampir setiap hari ada yang dimangsa oleh si burung elang tunggal.

Dan kalau burung bermata tajam itu menyambar anak ayam, itu hanyalah tindakan terpaksa – kalau hari itu tidak dapat mangsa buruan, tikus sawah.

 Elang tunggal tidaklah setiap hari memangsa anak ayam dan terkadang juga ia berhasil diusir oleh orang kampung yang melihatnya sedang mencoba menyambar anak ayam. Terkadang juga si burung elang gagal menculik anak ayam,
sehingga terpaksa kembali ke terminalnya, pohon kering yang belum tumbang walau sudah meranggas. (Pohon kering itu seolah sengaja memfasilitasi pengintaian si burung garuda, seperti sebuah menara pengintaian).

 Lambang negaraku adalah elang bercakar tajam. Harusnya tidak terjadi korupsi di ngeri ini, karena burung garuda akan selalu menekan populasi tikus koruptor. Rupanya garuda Indinesia telah tua, tak mampu lagi mengurangi populasi tikus koruptor, atau memang dari sononya garuda Pancasila itu tak doyan tikus ?

Entah sejak kapan elang tunggal di desaku tak kelihatan lagi. Yang jelas sawah disekitar pohon meranggas tempat bertengger si elang-tunggal kini telah menjadi perumahan. Dan dulu saya tak pernah bertanya-tanya kenapa burung elang itu sendirian ? Apakah ia sudah menjanda atau sudah menduda ? Dan jenis kelaminnya juga tak kuketahui apakah jantan atau betina. Kusebut elang tunggal bukanlah berarti elang-jantan, walau tunggal dalam bahasa batak Toba berarti jantan.

 Saya hanyalah mengacu kepada bahasa Sansekerta, dimana tunggal berarti satu.(271111)