Minggu, 04 Desember 2011
ELANG TUNGGAL
Sewaktu kecil anak-ayam di desaku sering dimangsa seekor elang yang selalu bertengger di sebuah pohon mati didekat sawah dekat saluran pengairan. Waktu itu saya tak terpikir atau bertanya dalam hati, kenapa pohon kering yangtelah meranggas itu tidak dijadikan kayu api saja, untuk menghilangkan tempat bertengger si burung elang ‘pemangsa jahat’ anak ayam itu ?
Sekarang baru kumengerti kebijakan naluriah orang-orangtua, yang membiarkan anak ayamnya dimangsa si burung elang berwarna coklat itu. Rupanya burung predator lambang negara RI itu juga berguna bagi keseimbangan LH. Saya mencoba mengingat-ingat dan benarlah, petani didesaku tak pernah gagal panen karena serangan hama tikus. Rupanya makanan pokok burung-elang yang selalu bertengger di pohon meranggas dekat swah itu adalah tikus-tikus sawah.
Rupanya para petani padi didesaku telah berhitung secara naluriah. Lebih baik mengorbankan anak-ayam daripada gagal panen karena serangan hama tikus. Dengan keberadaan elang-tunggal itu maka populasi tikus di sawah tetap terkendali, karena hampir setiap hari ada yang dimangsa oleh si burung elang tunggal.
Dan kalau burung bermata tajam itu menyambar anak ayam, itu hanyalah tindakan terpaksa – kalau hari itu tidak dapat mangsa buruan, tikus sawah.
Elang tunggal tidaklah setiap hari memangsa anak ayam dan terkadang juga ia berhasil diusir oleh orang kampung yang melihatnya sedang mencoba menyambar anak ayam. Terkadang juga si burung elang gagal menculik anak ayam,
sehingga terpaksa kembali ke terminalnya, pohon kering yang belum tumbang walau sudah meranggas. (Pohon kering itu seolah sengaja memfasilitasi pengintaian si burung garuda, seperti sebuah menara pengintaian).
Lambang negaraku adalah elang bercakar tajam. Harusnya tidak terjadi korupsi di ngeri ini, karena burung garuda akan selalu menekan populasi tikus koruptor. Rupanya garuda Indinesia telah tua, tak mampu lagi mengurangi populasi tikus koruptor, atau memang dari sononya garuda Pancasila itu tak doyan tikus ?
Entah sejak kapan elang tunggal di desaku tak kelihatan lagi. Yang jelas sawah disekitar pohon meranggas tempat bertengger si elang-tunggal kini telah menjadi perumahan. Dan dulu saya tak pernah bertanya-tanya kenapa burung elang itu sendirian ? Apakah ia sudah menjanda atau sudah menduda ? Dan jenis kelaminnya juga tak kuketahui apakah jantan atau betina. Kusebut elang tunggal bukanlah berarti elang-jantan, walau tunggal dalam bahasa batak Toba berarti jantan.
Saya hanyalah mengacu kepada bahasa Sansekerta, dimana tunggal berarti satu.(271111)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar