MASUK TIVI
Baluhap bukan penggemar bola, tetapi ketika orang sekantornya pada ribut membicarakan kekalahan Ina 0-10 dari Bahrain itu, ia jadi ingin melihat tampang para pemain yang ‘mempermalukan bangsa’ itu . Maka ketika anaknya Tohap sedang asyik nonton pertandingan antara timnas Ina U-21 vs Brunai di layar-kaca , ia langsung keluar dari kamar dan sambil bertolak pinggang memandang kearah pesawat TV, ia bertanya : Ini ya yang kalah 0-10 itu ?
Tohap : Bukan Pak, yang kalah itu U-23, kalau yang ini U-21. Emang kenapa Pak, Bapak mau marahin mereka ya ?
Baluhap : Bukan, mau tahu aja. Udah brapa skor
Tohap : Kalah Ina, 0-1 !
Baluhap : Peringkat brapa sekarang Brunai ?
Tohap : Kata komentator tadi, peringkat 201, ke-7 dari bawah
Baluhap : Peringkat Ina ?
Tohap : 147
Sementara itu di layar-kaca terlihat pergantian pemain timnas Ina. Masuk Kamal Sembiring berpostur lumayan menggantikan seseorang, tapi bukan Andik
Baluhap : Kok bukan Andik yang diganti ?
Tohap : Bapak ini gimana sih, Andik itu yang diandalkan
Baluhap : Saya lihat ia terlalu nafsu mencetak gol, jadi merugikan. Ini kan permainan tim, bukan perseorangan
Tohap : Mana ada yang dirugikan Andik
Baluhap : Kau aja sudah dirugikan, jadi stress, dari tadi memaki-maki didepan TV. Bodohlah, dasar pemakan tempelah….
Tiba-tiba tim gawang Ina kemasukan lagi 1 gol lewat sebuah serangan balik lawan.
Tohap mengumpat : Katro, bukannya dijaga. Pake jatuh lagi (kesal melihat bek yang dikecoh pemain Brunai terjatuh sendiri tak ada hujan tak ada angin)
Baluhap : Brapa sekarang penduduk Brunai ?
Tohap : 800 ribu, kenapa Pak. Bapak ini membanding-bandingkan terus, sudah Bapak tidurlah, kok tumben Bapak ikut nonton, biasanya tak suka bola.
Sambil masuk kamar Baluhap masih menyempatkan berkomentar : Sudah harga BBM akan dinaikkan, tim SB-nya kalah melulu. Bukannya kwalitas bolanya yang dinaikkan.
Sepeninggal ayahnya, Tohap tiba-tiba tercenung. Iya juga ya, andai tim sepakbola Ina menang sekali-sekali saja, mungkin bisa mengurangi stress penduduk akibat kenaikan harga-harga yang tak lama lagi akan terjadi. Kini bangsa ini seperti kena perumpamaan, sudah jatuh ditimpa tangga, atau seperti anak ayam kehilangan induk – seperti tak punya presiden.
Brunai pernah diskors 2 tahun dan baru Mei 2011 yl dibolehkan lagi tampil di event-event yang diakui FIFA, tetapi terlihat cukup bagus untuk ukuran ASEAN. Penduduk asli Brunai Darussalam hanya 800 ribu jiwa lebih lebih sedikit dari jumlah pendatang yang sekitar 1,2 juta jiwa. Penduduk Ina sekitar 240 juta dan 30 % diduga telah berpenyakit-jiwa karena berbagai sebab yang intinya berakar ke masalah ekonomi dan konsumerisme.
Postur tubuh pesepakbola Ina U-21 yang dikirim ke stadion Khasanah Bolkiah itu rata-rata lebih tinggi dari lawan, harusnya jadi salah-satu modal untuk menang. Modal untuk menang lainnya adalah penduduk yang jumlahnya 240 kali dari penduduk lawan di final Hasan Bolkiah Cup kemaren 090312 itu. Juga peringkat pesepakbola kita yang (147-121) = 26 anak-tangga diatas timnas mereka.
Sementara menjadikan perseteruan di kepengurusan organisasi induk SB sebagai alasan kekalahan tidaklah logis, karena ‘PSSI’ mereka juga suka ricuh dan baru saja dipulihkan haknya oleh FIFA – setelah diskors 2 tahun akibat tak memenuhi statuta FIFA.
Maka kesimpulan saya, cukup banyak faktor yang tak mendukung kemajuan persepakbolaan Ina, diluar kepengurusan yang kampungan, diluar faktor makanan pesepakbola sewaktu masih kecil yang kurang bergizi (yang berpengaruh ke masadepan ybs setelah dewasa) dan diluar IQ pesepakbola kita yang secara rata-rata mungkin lebih rendah dari IQ rata-rata pesepakbola ASEAN, apalagi jika dibandingkan dengan Jepang dan Korea yang ‘sangat makmur’ itu.1]
Dugaan saya diantaranya adalah gangguan media-massa (terutama media TV) kita yang egois seperti pemain kita di lapangan hijau yang juga sering egoistik (enggan mengoper bola ke teman yang berposisi lebih ideal untuk mencetak gol).
Egoisme stasiun TV kita adalah mengeksploitir popularitas setiap pesepakbola yang baru mau berkembang menjadi santapan berita, yang bisa mengakibatkan ‘calon-bintang’ itu akhirnya menjadi layu sebelum berkembang – seperti yang dialami Irfan Bahdim.2]
Cobalah media elektronik tak mengganggu terus mereka yang akan mengharumkan nama bangsa itu, tidak selalu mau mewawancarai seorang pesepakbola, hanya karena yang disebut pernah bertukar kaos dengan David Beckham misalnya . Akibatnya dalam jangka panjang adalah motivasi yang disanjung-sanjung yang menjadi melenceng, bukan lagi untuk membela merah-putih, tetapi untuk menjadi selebirti, he-he.
Akibatnya setiap pesepakbola kita selalu cenderung mau mencetak gol tanpa memperhitungkan berapa persen kemungkinan terjadinya gol. Sedikit saja agak bebas dari penjagaan lawan,langsung menendang bola kearah gawang lawan. Padahal mereka bukanlah macan seperti Van Persie, yang berkali-kali gagal mencetak gol tetapi selalu berhasil kira-kira 1/6-nya.3]
Tujuan ‘the mission-impossible’ mereka tentu saja agar mejadi top skorer bukan agar tim yang diperkuatnya menang. Dan ketika ia telah menjadi ‘bintang’, kesempatan main sinetronpun akan terbuka lebar dan selamat tinggallah sepakbola yang kurang bermasa-depan bagi Ina itu. 4]
Maka, demi kemajuan persepakbolaan Ina, cobalah pihak TV menahan diri, jangan terlalu menyanjung-nyanjung pemain yang baru mau berkembang sehingga menjadi lupa diri atau lengah bahkan terlena, hanya demi sajian berita.
Tanpa mengganggu calon bintang SB Ina, stasiun TV saya kira tak sampai kiamat, kan masih banyak berita dan infotaiment lain yang bisa digarap karyawan atau crew TV, asalkan mereka kreatip tentunya. Orang sudah sibuk mencoba membenahi persepakbolaan nasional yang terpuruk selama puluhan tahun dengan mendatangkan Irfan Bahdim, dsb – dengan tujuan membangkitkan-ulang persepakbolaan nasional ke masa Ramang cs di tahun 1950-an. Eh,enak saja TV dan pengusaha perfileman membujuk-bujuk IB untuk syuting, dsb – yang membuat konsentrasinya menjadi terganggu dan kini tak jelas lagi apakah Irfan yang ‘dibawa-pulang’ dari Nederland itu, seorang pengolah sikulit-bundar atau seorang aktor-film atau bintang iklan.
Padahal jika pengusaha media TV bersabar sedikit, dalam jangka-panjang mereka akan memperoleh bahan sajian berita yang lebih bermutu, selevel berita menyangkut Chris John, dsb. Yang terjadi adalah, baru bertukar-kaos dengan David Bekcham pada sebuah pertandingan eksebisi, Andik sudah diisukan mau bermain di klub Benfica yang baru saja lolos ke 8 besar Liga Champions, he-he.5]
Media TV diakui berperan dalam mencerdaskan bangsa, tetapi juga ikut menyumbang dalam menjerumuskan bangsa ke jurang yang dalam lewat sajian-sajiannya yang kurang cerdas dan hanya mementingkan bisnis pemiliknya.
Menkominfo seharusnya berperan dalam menangani hal-hal seperti ini, mendorong media TV agar lebih cerdas, bukankah Kemenkominfo sudah kekurangan pekerjaan sekarang ini ? 6]
Menperindag juga harus mampu menata ekonomi bangsa ini agar jangan saling tabrakan, yang satu merugikan yang lain – tetapi bekerjasama dengan baik dan proporsional, agar bangsa ini lekas pulih dari keterpurukannya, satu-satunya macan Asia yang belum siuman dari pingsannya dibius singa Jehuda Soros di tahun 1997.
Bahkan seluruh menteri harus berembug mengatasi konflik diantara pelaku ekonomi, seperti konflik antara industri SB dengan industri perfileman dan periklanan – agar jangan ada yang dikorbankan. Industri kehutanan (?) jangan terlalu rakus sehingga mematikan industri perkapalan karena kekurangan kayu, demikian juga industri rumah yang bisa dibongkar-pasang di Sulut itu. Pengrajin anyaman tikar-pandan mati kekurangan bahan baku, karena sembrononya petambak udang,dsb.
Kalau tidak didamaikan, maka seluruh bangsa akan merugi dan sebutan sebagai bangsa jongos itu tak akan pernah lagi lekang dari kulit kita lagi.
Catatan
1] IQ atau mutu SDM ada kaitannya dengan kemakmuran dan konsumsi protein dan Omega 3. Semakin makmur sebuah negara, semakin tinggilah konsumsi ikannya. Konsumsi ikan kita adalah separuh konsumsi Thailand dan tradisi menggemari ikan itu ada yang berakar dalam budaya sesuatu suku/bangsa, seperti pada bangsa Jepang. Kita adalah sebaliknya, kalau anak merengek-rengek minta ikan, apa kata ibunya ? Banyak makan ikan ‘ntar cacingan. Bangsa kita justru cenderung vegetarian dengan adanya tempe yang memang mampu menggantikan protein ikan dan daging, tetapi tanpa Omega 3 yang berperan mencerdaskan otak itu. Maka kalau dipikir-pikir bangsa kita adalah bangsa setengah pertapa atau serba tanggung. Negro Amerika dulunya hanya mengandalkan otot ketika diperbudak tetapi tak tanggung-tanggung dan hasilnya ? Power mereka di bidang olah vocal dan tinju sungguh luar biasa. Beda dengan bangsa kita yang sudah IQ rada-rada jongkok, eh tenaga juga kurang, capek deh.
2]Nasionalisme tidak hanya ditunjukkan ketika bersorak-sorak mendukung Andik cs yang lagi berlaga di lapangan hijau, tetapi juga ditunjukkan dengan mendukung terciptanya sebuah tim yang bagus – dengan tidak mengganggu pesepakbola dengan acara infotaiment yang berpengaruh kepada keinginan lekas tenar tanpa menyusun fondasi yang kokoh peningkatan prestasi atlit SB yang ingin ‘masuk TV’ itu. Parpol juga jangan ikut-ikutan memanfaatkan pesepakbola untuk kepentingan kampanye terselubung seperti yang dilakukan PG dulu kepada Irfan Bahdim. Apalagi olahraga adalah arena menjunjung tinggi sportipitas, sportipkah kalau PG curi start kampanye pemilu dengan memasang poster AR Bakrie diluar stadion Bukit Jalil Desember 2010 yl ? Demikian juga pesantren dan lembaga-lembaga lainnya.
3] RVP seperti seekor macan dipadang rumput perburuan, yang memang lebih banyak gagalnya dalam menerkam mangsa daripada berhasilnya. ingat istilah rezeki macan yang ditujukan kepada orang yang berprofesi sebagai calo tanah, calo mobil, dsb.
4] Pesepakbola yang diberi kepercayaan membela merah-putih sebenarnya sudah masuk TV ketika berlaga di lapangan hijau, untuk apalagi masuk TV secara perseorangan (diinfotaimentkan) ? Sabar dikit napa, kan ada saatnya jadi bintang infotaiment.
5] Budaya gagah-gagahan
6] Dulu kementerian ini pernah dibubarkan oleh Gusdur, karena dianggap mubazir . Kan sudah ada TV, gitu aja kok repot jawab Gusdur ketika ditanya wartawan kenapa membubarkan Deppen.
Rabu, 18 April 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
BEDAH MACET MERAK
Sebenarnya masalah yang dihadapi kegiatan penyeberangan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda bukanlah sekedar menyangkut jumlah atau volume apa-apa yang akan diseberangkan yang memang meningkat dari waktu ke waktu berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk ditambah dengan kebutuhannya (termasuk pertumbuhan kenderaan umum/pribadi).
Tetapi lebih kepada fasilitas penyeberangannya yang terdiri dari komponen tak bergerak (dermaga) dan komponen bergerak (kapal atau alat transportasi sejenisnya) dan selebihnya adalah faktor cuaca dan ketersediaan bahan bakar yang boleh dikatakan tidak pernah bermasalah, sehingga tak perlu dimasukkan sebagai variabel yang mempengaruhi keberhasilan atau produktipitas kegiatan pemindahan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda.
Yang boleh dimasukkan sebagai variabel adalah kondisi alat-penyeberang, sehingga tidak sekedar jumlah (kwantitas) ketersediaan kapal pengangkut setiap saat. Kalau sebuah kapal sulit merapat ke dermaga, penyebabnya lebih kepada kondisi atau kwalitas kapal daripada ke hempasan atau gangguan ombak, karena pengaruh cuaca di Selat Sunda yang relatip terlindung pulau besar Jawa dan Sumatera adalah relatip kecil dibandingkan dengan pengaruh serupa di Indonesia Timur, dimana pulau-pulaunya lebih kecil sehingga kurang efektip melindungi jalur penyeberangan dari gangguan angin.
Sementara untuk fasilitas penyeberangan tak-bergerak (dermaga), problemanya lebih kepada kwantitas daripada kwalitas, kalau dikaitkan dengan kondisi rata-rata kapal yang diseberangkan di Selat Sunda sekarang ini -- yang rata-rata sudah uzur. Semakin jelek kondisi kapal secara rata-rata – maka semakin banyaklah kapal yang diperlukan yang berarti semakin memerlukan banyak dermaga untuk menghindari terjadinya antrian kapal yang boros waktu dan boros bahan-bakar itu. Juga untuk menghindari tabrakan antar kapal atau setidaknya untuk menghindari saling menghalangi ketika mau merapat ke dermaga yang jumlahnya terbatas.
Ratio kapal : dermaga
Kalau seandainya dengan mengoperasikan 30 kapal dan 6 dermaga yang layak disandari tak terjadi lagi kemacetan, maka ratio antara dermaga dengan kapal yang ideal adalah 6 : 30 atau 1/5. Tetapi jika kondisi kapal yang dioperasikan rata-rata lebih baik dari kondisi yang sekarang, maka jumlah kapal 20 unit tak harus membutuhkan 4 dermaga sesuai dengan ratio l : 5 itu. Dengan 3 dermaga saja mungin arus angkutan hilir-mudik Merak- Bakauheuni akan cukup lancar, karena kapal yang lebih sehat akan lebih cepat bongkar-muat penumpang daripada kapal yang kurang sehat.
Kerugian lainnya dari mengoperasikan kapal-kapal afkiran ex Jepang, Korea dsb adalah lebih lamanya waktu tempuhnya, yang bisa berselisih 30 menit untuk satu rit dari kapal yang sehat. Ini akan berarti borosnya bahan bakar dan last but not least : meningkatnya CO2 yang terlepas dari cerobong kapalnya, yang berdampak lebih buruk terhadap pemanasan global, isu terhangat saat ini.
Berbanding lurus
Maka kalau dirumuskan, lancarnya perjalanan dan angkutan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda adalah berbanding lurus dengan jumlah kapal, berbanding lurus dengan jumlah dermaga, berbanding lurus dengan kwalitas kapal, berbanding-lurus dengan kwalitas dan ukuran dermaga dan berbanding terbalik dengan jumlah/volume yang diangkut (muatan).
Semakin banyak sarana pengangkut maka akan semakin lancarlah kegiatan penyeberangan. Semakin baik mutu dan kondisi kapal, semakin lancarlah kegiatan bongkar-muat Merak-Bakauheuni. Namun ukuran kapal yang terlalu besar bukan berarti akan memperlancar kegiatan, karena bisa saja terkendala waktu dalam mengatur pemuatan dan pembongkaran atau hal-hal lainnya. Maka semakin besar ukuran kapal hanya sampai batas tertentu untuk menghasilkan pelayanan yang semakin baik.
Semakin banyak dermaga semakin lancarlah kegiatan penyeberangan oleh kapal. Tetapi kondisi dan ukuran dermaga juga menentukan dalam kemulusan merapatnya kapal, demikian juga barangkali ketinggian dan arah mata-anginnya yang bisa mempengaruhi waktu merapat dan membenahi tangga/pintu, dsb kapal.
Berbanding terbalik
Kelancaran penyeberangan tidak hanya menyangkut hal-hal yang positip semacam jumlah kapal dan kondisi yang prima, tetapi juga mengusahakan hal-hal yang negatip seperti muatan kapal. Semakin sedikit yang diangkut maka akan semakin lancarlah penyeberangan, baik itu orang, barang maupun kenderaan.
Namun usaha minimalisasi muatan kapal dengan merendahkan angka muatan dengan batas aman atau maksimum hanya akan meningkatkan tingkat keamanan dan kelancaran perjalanan saja dan tidak menaikkan angka muatan yang diseberangkan per satuan waktunya.
Maka minimalisasi yang dimaksud adalah pengalihan apa-apa yang akan diangkut lewat jalur lain, misalnya lewat Priok, setidaknya secara insidental -- ketika di Merak terjadi kemcetan. Kenderaan yang menuju Merak supaya dibatasi dan sebagian dialihkan ke pelabuhan Tanjung Periuk untuk diseberangkan dengan kapal lain menuju Bakauheuni.
Sebuah kebijakan melarang barang-barang tertentu melewati Merak perlu dikaji untuk mengurangi benda yang akan/harus diangkut via Merak.
Dengan kebijakan itu maka jumlah truk yang harus melewati Merak akan berhasil dikurangi. Namun apakah solusi atau opsi ini akan cukup efektip, masih perlu pengkajian atau ujian – walau diakui memang kenderaan yang paling bermasalah dalam kemacetan Merak adalah truk disusul dengan kenderaan pribadi.
Secara ekologis solusi pengalihan ini juga akan mengurangi emisi GRK (gas rumah kaca) sepanjang Jakarta-Merak yang terlepas dari knalpot mobil, kalau total emisi GRK kenderaan darat itu lebih besar dari gas CO2 yang keluar dari cerobong kapal yang beroperasi di Selat Sunda lewat Priok atau pelabuhan lainnya.
Penambahan jalur penyeberangan ini sedikit-banyak akan mengurangi jumlah truk yang beroperasi disepanjang Merak – ibukota RI, yang tidak saja menguntungkan bagi penyeberangan, tetapi juga menguntungkan bagi penduduk sepanjang Merak – Jakarta, baik penduduk biasa yang terganggu kemacetan (stress,dsb), maupun pengusaha restoran dan rumah makan yang terganggu omzet penjualannya oleh kemacetan.
Kenderaan pribadi
Iklan penawaran kenderaan pribadi sangat gencar dilakukan oleh dealer dan lucunya didukung pula oleh pemerintah, sehingga menambah populasi moda transpotasi ini yang tidak hanya memperparah kemacetan di ibukota,tetapi juga di Merak-Bakauheuni.
Dukungan pemerintah itu tidak saja dalam pemberian kemudahan pemasangan iklan, tetapi juga dengan pengerahan pegawai negeri untuk berbondong-bondong mengikuti kredit ranmor. Pihak dealer juga begitu mudahnya menerima permintaan kredit ranmor, bahkan tanpa DP lagi, setidaknya untuk ranmor beroda-2. Ditambah lagi dengan peran media-elektronik yang memudahkan pewadahan iklan pemasaran kenderaan pribadi yang semakin bermasalah itu.
Langkah antagonis
Maka secara antagonis, mempersulit warga untuk memiliki kenderaan pribadi juga adalah salahsatu solusi untuk mengatasi kemacetan dimanapun itu diseluruh dunia, termasuk di Merak. Andai para penyeberang Selat Sunda yang memakai mobil pribadi berkurang, maka yang akan diangkut oleh kapal penyeberang juga akan berkurang, sehingga masalah kemacetan akan lebih mudah diatasi.
Dan terakhir, suksesnya program KB juga akan ikut menyumbang kedalam langkah-langkah melancarkan kegiatan penyeberangan Merak – Bakauheuni ini, karena sekalipun langkah-langkah lain yang disebut diatas telah dilakukan, namun secara relatip pengaruh pertumbuhan penduduk juga akan ikut memacetkan LL dimanapun itu berada. Karena tidak saja manusia yang menyeberangi selat Sunda yang akan bertambah, tetapi juga barang kebutuhan dan kenderaan – dengan pertumbuhan penduduk yang tak terkendali itu
Tetapi lebih kepada fasilitas penyeberangannya yang terdiri dari komponen tak bergerak (dermaga) dan komponen bergerak (kapal atau alat transportasi sejenisnya) dan selebihnya adalah faktor cuaca dan ketersediaan bahan bakar yang boleh dikatakan tidak pernah bermasalah, sehingga tak perlu dimasukkan sebagai variabel yang mempengaruhi keberhasilan atau produktipitas kegiatan pemindahan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda.
Yang boleh dimasukkan sebagai variabel adalah kondisi alat-penyeberang, sehingga tidak sekedar jumlah (kwantitas) ketersediaan kapal pengangkut setiap saat. Kalau sebuah kapal sulit merapat ke dermaga, penyebabnya lebih kepada kondisi atau kwalitas kapal daripada ke hempasan atau gangguan ombak, karena pengaruh cuaca di Selat Sunda yang relatip terlindung pulau besar Jawa dan Sumatera adalah relatip kecil dibandingkan dengan pengaruh serupa di Indonesia Timur, dimana pulau-pulaunya lebih kecil sehingga kurang efektip melindungi jalur penyeberangan dari gangguan angin.
Sementara untuk fasilitas penyeberangan tak-bergerak (dermaga), problemanya lebih kepada kwantitas daripada kwalitas, kalau dikaitkan dengan kondisi rata-rata kapal yang diseberangkan di Selat Sunda sekarang ini -- yang rata-rata sudah uzur. Semakin jelek kondisi kapal secara rata-rata – maka semakin banyaklah kapal yang diperlukan yang berarti semakin memerlukan banyak dermaga untuk menghindari terjadinya antrian kapal yang boros waktu dan boros bahan-bakar itu. Juga untuk menghindari tabrakan antar kapal atau setidaknya untuk menghindari saling menghalangi ketika mau merapat ke dermaga yang jumlahnya terbatas.
Ratio kapal : dermaga
Kalau seandainya dengan mengoperasikan 30 kapal dan 6 dermaga yang layak disandari tak terjadi lagi kemacetan, maka ratio antara dermaga dengan kapal yang ideal adalah 6 : 30 atau 1/5. Tetapi jika kondisi kapal yang dioperasikan rata-rata lebih baik dari kondisi yang sekarang, maka jumlah kapal 20 unit tak harus membutuhkan 4 dermaga sesuai dengan ratio l : 5 itu. Dengan 3 dermaga saja mungin arus angkutan hilir-mudik Merak- Bakauheuni akan cukup lancar, karena kapal yang lebih sehat akan lebih cepat bongkar-muat penumpang daripada kapal yang kurang sehat.
Kerugian lainnya dari mengoperasikan kapal-kapal afkiran ex Jepang, Korea dsb adalah lebih lamanya waktu tempuhnya, yang bisa berselisih 30 menit untuk satu rit dari kapal yang sehat. Ini akan berarti borosnya bahan bakar dan last but not least : meningkatnya CO2 yang terlepas dari cerobong kapalnya, yang berdampak lebih buruk terhadap pemanasan global, isu terhangat saat ini.
Berbanding lurus
Maka kalau dirumuskan, lancarnya perjalanan dan angkutan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda adalah berbanding lurus dengan jumlah kapal, berbanding lurus dengan jumlah dermaga, berbanding lurus dengan kwalitas kapal, berbanding-lurus dengan kwalitas dan ukuran dermaga dan berbanding terbalik dengan jumlah/volume yang diangkut (muatan).
Semakin banyak sarana pengangkut maka akan semakin lancarlah kegiatan penyeberangan. Semakin baik mutu dan kondisi kapal, semakin lancarlah kegiatan bongkar-muat Merak-Bakauheuni. Namun ukuran kapal yang terlalu besar bukan berarti akan memperlancar kegiatan, karena bisa saja terkendala waktu dalam mengatur pemuatan dan pembongkaran atau hal-hal lainnya. Maka semakin besar ukuran kapal hanya sampai batas tertentu untuk menghasilkan pelayanan yang semakin baik.
Semakin banyak dermaga semakin lancarlah kegiatan penyeberangan oleh kapal. Tetapi kondisi dan ukuran dermaga juga menentukan dalam kemulusan merapatnya kapal, demikian juga barangkali ketinggian dan arah mata-anginnya yang bisa mempengaruhi waktu merapat dan membenahi tangga/pintu, dsb kapal.
Berbanding terbalik
Kelancaran penyeberangan tidak hanya menyangkut hal-hal yang positip semacam jumlah kapal dan kondisi yang prima, tetapi juga mengusahakan hal-hal yang negatip seperti muatan kapal. Semakin sedikit yang diangkut maka akan semakin lancarlah penyeberangan, baik itu orang, barang maupun kenderaan.
Namun usaha minimalisasi muatan kapal dengan merendahkan angka muatan dengan batas aman atau maksimum hanya akan meningkatkan tingkat keamanan dan kelancaran perjalanan saja dan tidak menaikkan angka muatan yang diseberangkan per satuan waktunya.
Maka minimalisasi yang dimaksud adalah pengalihan apa-apa yang akan diangkut lewat jalur lain, misalnya lewat Priok, setidaknya secara insidental -- ketika di Merak terjadi kemcetan. Kenderaan yang menuju Merak supaya dibatasi dan sebagian dialihkan ke pelabuhan Tanjung Periuk untuk diseberangkan dengan kapal lain menuju Bakauheuni.
Sebuah kebijakan melarang barang-barang tertentu melewati Merak perlu dikaji untuk mengurangi benda yang akan/harus diangkut via Merak.
Dengan kebijakan itu maka jumlah truk yang harus melewati Merak akan berhasil dikurangi. Namun apakah solusi atau opsi ini akan cukup efektip, masih perlu pengkajian atau ujian – walau diakui memang kenderaan yang paling bermasalah dalam kemacetan Merak adalah truk disusul dengan kenderaan pribadi.
Secara ekologis solusi pengalihan ini juga akan mengurangi emisi GRK (gas rumah kaca) sepanjang Jakarta-Merak yang terlepas dari knalpot mobil, kalau total emisi GRK kenderaan darat itu lebih besar dari gas CO2 yang keluar dari cerobong kapal yang beroperasi di Selat Sunda lewat Priok atau pelabuhan lainnya.
Penambahan jalur penyeberangan ini sedikit-banyak akan mengurangi jumlah truk yang beroperasi disepanjang Merak – ibukota RI, yang tidak saja menguntungkan bagi penyeberangan, tetapi juga menguntungkan bagi penduduk sepanjang Merak – Jakarta, baik penduduk biasa yang terganggu kemacetan (stress,dsb), maupun pengusaha restoran dan rumah makan yang terganggu omzet penjualannya oleh kemacetan.
Kenderaan pribadi
Iklan penawaran kenderaan pribadi sangat gencar dilakukan oleh dealer dan lucunya didukung pula oleh pemerintah, sehingga menambah populasi moda transpotasi ini yang tidak hanya memperparah kemacetan di ibukota,tetapi juga di Merak-Bakauheuni.
Dukungan pemerintah itu tidak saja dalam pemberian kemudahan pemasangan iklan, tetapi juga dengan pengerahan pegawai negeri untuk berbondong-bondong mengikuti kredit ranmor. Pihak dealer juga begitu mudahnya menerima permintaan kredit ranmor, bahkan tanpa DP lagi, setidaknya untuk ranmor beroda-2. Ditambah lagi dengan peran media-elektronik yang memudahkan pewadahan iklan pemasaran kenderaan pribadi yang semakin bermasalah itu.
Langkah antagonis
Maka secara antagonis, mempersulit warga untuk memiliki kenderaan pribadi juga adalah salahsatu solusi untuk mengatasi kemacetan dimanapun itu diseluruh dunia, termasuk di Merak. Andai para penyeberang Selat Sunda yang memakai mobil pribadi berkurang, maka yang akan diangkut oleh kapal penyeberang juga akan berkurang, sehingga masalah kemacetan akan lebih mudah diatasi.
Dan terakhir, suksesnya program KB juga akan ikut menyumbang kedalam langkah-langkah melancarkan kegiatan penyeberangan Merak – Bakauheuni ini, karena sekalipun langkah-langkah lain yang disebut diatas telah dilakukan, namun secara relatip pengaruh pertumbuhan penduduk juga akan ikut memacetkan LL dimanapun itu berada. Karena tidak saja manusia yang menyeberangi selat Sunda yang akan bertambah, tetapi juga barang kebutuhan dan kenderaan – dengan pertumbuhan penduduk yang tak terkendali itu
Langganan:
Komentar (Atom)