Sebenarnya masalah yang dihadapi kegiatan penyeberangan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda bukanlah sekedar menyangkut jumlah atau volume apa-apa yang akan diseberangkan yang memang meningkat dari waktu ke waktu berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk ditambah dengan kebutuhannya (termasuk pertumbuhan kenderaan umum/pribadi).
Tetapi lebih kepada fasilitas penyeberangannya yang terdiri dari komponen tak bergerak (dermaga) dan komponen bergerak (kapal atau alat transportasi sejenisnya) dan selebihnya adalah faktor cuaca dan ketersediaan bahan bakar yang boleh dikatakan tidak pernah bermasalah, sehingga tak perlu dimasukkan sebagai variabel yang mempengaruhi keberhasilan atau produktipitas kegiatan pemindahan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda.
Yang boleh dimasukkan sebagai variabel adalah kondisi alat-penyeberang, sehingga tidak sekedar jumlah (kwantitas) ketersediaan kapal pengangkut setiap saat. Kalau sebuah kapal sulit merapat ke dermaga, penyebabnya lebih kepada kondisi atau kwalitas kapal daripada ke hempasan atau gangguan ombak, karena pengaruh cuaca di Selat Sunda yang relatip terlindung pulau besar Jawa dan Sumatera adalah relatip kecil dibandingkan dengan pengaruh serupa di Indonesia Timur, dimana pulau-pulaunya lebih kecil sehingga kurang efektip melindungi jalur penyeberangan dari gangguan angin.
Sementara untuk fasilitas penyeberangan tak-bergerak (dermaga), problemanya lebih kepada kwantitas daripada kwalitas, kalau dikaitkan dengan kondisi rata-rata kapal yang diseberangkan di Selat Sunda sekarang ini -- yang rata-rata sudah uzur. Semakin jelek kondisi kapal secara rata-rata – maka semakin banyaklah kapal yang diperlukan yang berarti semakin memerlukan banyak dermaga untuk menghindari terjadinya antrian kapal yang boros waktu dan boros bahan-bakar itu. Juga untuk menghindari tabrakan antar kapal atau setidaknya untuk menghindari saling menghalangi ketika mau merapat ke dermaga yang jumlahnya terbatas.
Ratio kapal : dermaga
Kalau seandainya dengan mengoperasikan 30 kapal dan 6 dermaga yang layak disandari tak terjadi lagi kemacetan, maka ratio antara dermaga dengan kapal yang ideal adalah 6 : 30 atau 1/5. Tetapi jika kondisi kapal yang dioperasikan rata-rata lebih baik dari kondisi yang sekarang, maka jumlah kapal 20 unit tak harus membutuhkan 4 dermaga sesuai dengan ratio l : 5 itu. Dengan 3 dermaga saja mungin arus angkutan hilir-mudik Merak- Bakauheuni akan cukup lancar, karena kapal yang lebih sehat akan lebih cepat bongkar-muat penumpang daripada kapal yang kurang sehat.
Kerugian lainnya dari mengoperasikan kapal-kapal afkiran ex Jepang, Korea dsb adalah lebih lamanya waktu tempuhnya, yang bisa berselisih 30 menit untuk satu rit dari kapal yang sehat. Ini akan berarti borosnya bahan bakar dan last but not least : meningkatnya CO2 yang terlepas dari cerobong kapalnya, yang berdampak lebih buruk terhadap pemanasan global, isu terhangat saat ini.
Berbanding lurus
Maka kalau dirumuskan, lancarnya perjalanan dan angkutan orang, barang dan kenderaan di Selat Sunda adalah berbanding lurus dengan jumlah kapal, berbanding lurus dengan jumlah dermaga, berbanding lurus dengan kwalitas kapal, berbanding-lurus dengan kwalitas dan ukuran dermaga dan berbanding terbalik dengan jumlah/volume yang diangkut (muatan).
Semakin banyak sarana pengangkut maka akan semakin lancarlah kegiatan penyeberangan. Semakin baik mutu dan kondisi kapal, semakin lancarlah kegiatan bongkar-muat Merak-Bakauheuni. Namun ukuran kapal yang terlalu besar bukan berarti akan memperlancar kegiatan, karena bisa saja terkendala waktu dalam mengatur pemuatan dan pembongkaran atau hal-hal lainnya. Maka semakin besar ukuran kapal hanya sampai batas tertentu untuk menghasilkan pelayanan yang semakin baik.
Semakin banyak dermaga semakin lancarlah kegiatan penyeberangan oleh kapal. Tetapi kondisi dan ukuran dermaga juga menentukan dalam kemulusan merapatnya kapal, demikian juga barangkali ketinggian dan arah mata-anginnya yang bisa mempengaruhi waktu merapat dan membenahi tangga/pintu, dsb kapal.
Berbanding terbalik
Kelancaran penyeberangan tidak hanya menyangkut hal-hal yang positip semacam jumlah kapal dan kondisi yang prima, tetapi juga mengusahakan hal-hal yang negatip seperti muatan kapal. Semakin sedikit yang diangkut maka akan semakin lancarlah penyeberangan, baik itu orang, barang maupun kenderaan.
Namun usaha minimalisasi muatan kapal dengan merendahkan angka muatan dengan batas aman atau maksimum hanya akan meningkatkan tingkat keamanan dan kelancaran perjalanan saja dan tidak menaikkan angka muatan yang diseberangkan per satuan waktunya.
Maka minimalisasi yang dimaksud adalah pengalihan apa-apa yang akan diangkut lewat jalur lain, misalnya lewat Priok, setidaknya secara insidental -- ketika di Merak terjadi kemcetan. Kenderaan yang menuju Merak supaya dibatasi dan sebagian dialihkan ke pelabuhan Tanjung Periuk untuk diseberangkan dengan kapal lain menuju Bakauheuni.
Sebuah kebijakan melarang barang-barang tertentu melewati Merak perlu dikaji untuk mengurangi benda yang akan/harus diangkut via Merak.
Dengan kebijakan itu maka jumlah truk yang harus melewati Merak akan berhasil dikurangi. Namun apakah solusi atau opsi ini akan cukup efektip, masih perlu pengkajian atau ujian – walau diakui memang kenderaan yang paling bermasalah dalam kemacetan Merak adalah truk disusul dengan kenderaan pribadi.
Secara ekologis solusi pengalihan ini juga akan mengurangi emisi GRK (gas rumah kaca) sepanjang Jakarta-Merak yang terlepas dari knalpot mobil, kalau total emisi GRK kenderaan darat itu lebih besar dari gas CO2 yang keluar dari cerobong kapal yang beroperasi di Selat Sunda lewat Priok atau pelabuhan lainnya.
Penambahan jalur penyeberangan ini sedikit-banyak akan mengurangi jumlah truk yang beroperasi disepanjang Merak – ibukota RI, yang tidak saja menguntungkan bagi penyeberangan, tetapi juga menguntungkan bagi penduduk sepanjang Merak – Jakarta, baik penduduk biasa yang terganggu kemacetan (stress,dsb), maupun pengusaha restoran dan rumah makan yang terganggu omzet penjualannya oleh kemacetan.
Kenderaan pribadi
Iklan penawaran kenderaan pribadi sangat gencar dilakukan oleh dealer dan lucunya didukung pula oleh pemerintah, sehingga menambah populasi moda transpotasi ini yang tidak hanya memperparah kemacetan di ibukota,tetapi juga di Merak-Bakauheuni.
Dukungan pemerintah itu tidak saja dalam pemberian kemudahan pemasangan iklan, tetapi juga dengan pengerahan pegawai negeri untuk berbondong-bondong mengikuti kredit ranmor. Pihak dealer juga begitu mudahnya menerima permintaan kredit ranmor, bahkan tanpa DP lagi, setidaknya untuk ranmor beroda-2. Ditambah lagi dengan peran media-elektronik yang memudahkan pewadahan iklan pemasaran kenderaan pribadi yang semakin bermasalah itu.
Langkah antagonis
Maka secara antagonis, mempersulit warga untuk memiliki kenderaan pribadi juga adalah salahsatu solusi untuk mengatasi kemacetan dimanapun itu diseluruh dunia, termasuk di Merak. Andai para penyeberang Selat Sunda yang memakai mobil pribadi berkurang, maka yang akan diangkut oleh kapal penyeberang juga akan berkurang, sehingga masalah kemacetan akan lebih mudah diatasi.
Dan terakhir, suksesnya program KB juga akan ikut menyumbang kedalam langkah-langkah melancarkan kegiatan penyeberangan Merak – Bakauheuni ini, karena sekalipun langkah-langkah lain yang disebut diatas telah dilakukan, namun secara relatip pengaruh pertumbuhan penduduk juga akan ikut memacetkan LL dimanapun itu berada. Karena tidak saja manusia yang menyeberangi selat Sunda yang akan bertambah, tetapi juga barang kebutuhan dan kenderaan – dengan pertumbuhan penduduk yang tak terkendali itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar