Sabtu, 26 Oktober 2013

BATAK BEREKOR





Di Abad ke-19 penjajah Belanda membuka perkebunan tembakau di Tanah Deli. Didatangkalah kuli-kontrak dari pulau Jawa untuk membuka hutan di Sumatera Timur itu.
Mendatangkan kukon dari pulau seberang tentu saja menjadi pilihan mudah, dikala pribumi lokal (Melayu-Deli) ogah diajak menjadi pekerja kebun. Selain agak malas, populasi suku Melayu juga tidak begitu tinggi.
Maka wajar kalau perantau Batak dari Tapanuli juga diterima bekerja di perkebunan yang akan menghasilkan dollar itu.
Menurut penuturan seorang bermarga Harahap, Orba yang pertama merantau ke Deli adalah dari Sipirok. Para pemuda Angkola itu dibekali dulu bela diri moncak sekedar untuk jaga-jaga.

Perantau dari Sipirok itu punya ciri tersendiri, yaitu parang selalu terselip di pinggang, tetapi berada didalam kain sarung. (Dulu kebanyakan orang  belum memakai celana-panjang/pendek). Maka agak repot kalau belanja di hari pekan usai gajian. Soalnya tawar-menawar dengan pedagang harus dilakukan sambil  jongkok, karena barang dagangan yang posisinya terletak diatas tanah saja.
Maka terpaksalah posisi parang  di pinggang dirobah dengan mendorong hulu senjata-tajam itu kearah depan. Tentu saja posisi parang menjadi sejajar dengan permukaan tanah dan terungkitlah kain sarung kearah belakang sehingga memberikan pemandangan lucu.

Orba yang lagi jongkok menawar barang dagangan itu terlihat seperti berekor. Itulah konon asal-usul julukan Batak berekor yang berkonotasi merendahkan itu.
Cerita diatas menurut seorang bermarga harahap di Lampung.

***

Dulu Orba memang direndahkan di Sumtim/Deli, sampai-sampai ada diantara mereka yang berinisiatip menciptakan  sebuah pantun, sekedar untuk ‘membela-diri’.
‘Senjata’ pantun itu dikeluarkan ketika ybs diserang dengan kata-kata merendahkan,misalnya ketika di-batak-batak-kan.
Bukan kapak sembarang kapak
Kapak juga tuk belah kayu
Bukan Batak sembarang Batak
Batak juga sudah masuk Melayu

Demikian menurut seorang nenek dari suku Jawa di Lampung. Nenek ini dulu bekerja di sebuah perkebunan di Deli, ikut ortunya dan pernah menjadi selir seorang mandor-kebun,sebelum akhirnya menikah dan pindah ke Lampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar