Senin, 08 Juli 2013
BANDUNG LAUTAN API
“Pahlawan adalah mereka yang telah melampaui dirinya, mau bekerja untuk kebesaran bangsanya dan bekerja keras untuk orang lain” (Anhar Gonggong – Sejarawan U I)
…Sekarang telah menjadi lautan api, mari Bung rebut kembali ..(Hallo Hallo Bandung)
***
Sukarno-Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Namun penjajah Belanda tidak mengakui kedaulatan RI itu. Belanda yang tak punya kekuatan militer lagi, lalu meminta tolong kepada tentara Sekutu agar melucuti persenjataan para pejuang kemerdekaan RI.
Maka pasukan Sekutu (dalam hal ini pasukan Inggris diperkuat personil dari etnis Gurkha / Nepal) memasuki "Hindia-Belanda" bersama pasukan Belanda (NICA) yang dibentuk secara buru-buru. Dwi-Tunggal Sukarno-Hatta lalu mengungsi ke Jogya dan Bandungpun direbut tentara Sekutu / NICA pada 27 Nop. 1945. Namun perlawanan masih terjadi di Bandung Selatan.
Pihak Sekutu lalu mengultimatum agar para pejuang menyerahkan senjata rampasan dari tentara Jepang yang telah menyerah, namun para pejuang menolak. Maka ultimatumpun lebih keras lagi, yaitu mengosongkan Bandung Selatan. Tujuannya adalah untuk dijadikan markas strategis militer pihak Sekutu / NICA. Untuk menghindari bombardir pesawat musuh, maka Bandung Selatanpun dikosongkan. Keputusan diambil oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia (TRI) melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan (MP3) untuk mengosongkan kota Bandung pada tanggal 24 Maret 1946.
Toha Pahlawan Bandung Selatan
TRI dan pejuang lainnya enggan menyerahkan kota Bandung secara utuh. Karena itu setelah mengungsikan penduduk, mereka membakar kota Bandung. Sehingga dimana-mana asap hitam mengepul membumbung tinggi ke udara mengiringi rombongan besar penduduk Bandung yang mengalir panjang meninggalkan kota Bandung. Ada yang mengatakan 200-an ribu lebih penduduk Bandung Selatan meninggalkan rumah masing-masing dengan membawa bekal seadanya.
Puncaknya adalah pembakaran yang mengakibatkan ledakan besar di gudang amunisi peninggalan tentara Jepang yang dilakukan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua anggota milisi barisan Rakyat Indonesia (BRI). Tugas yang berhasil dieksekusi dengan baik oleh Mohammad Toha sekaligus menyebabkan dirinya dan Mohammad Ramdan meninggal dalam ledakan dan kebakaran gudang tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar